Rindu Akan Dirimu yang Dulu.

Ketika kampung halaman yang tenang dan sepi terinvensi oleh kemodern-an, modernisasi mereka bilang. Diinvensi dengan didirikannya sebuah supermall baru.

Tau gak? Saya yang biasanya di Bandung H-beberapa jam pesen tiket bioskop lewat apps itu tenang2 saja, ketika di rumah kalah cepat dengan orang-orang yang pesan on the spot. Best view habis semua, untuk semua jadwal pada hari itu juga. Bisa bayanngkan ramainya pengantri tiket on the spot di sana?

Jalanan di depan gang rumah saya yang biasanya sepipun macet, dan kemacetan itu didominasi oleh mobil-mobil ber-plat nomor selain plat R. Jalanan yang biasanya sejuk, entah kenapa terasa gelap, berkabut. Bukan kabut di pagi hari yg menyejukkan, tapi kabut dari asap kendaraan bermotor.

Di satu sisi saya senang, karena kota kecil ini telah berevolusi menjadi kota yg lebih modern. Bisa menarik banyak wisatawan luar kota. Namun di sisi lain, saya rindu akan ketenangan kota ini, rindu akan ketradisionalannya.

Purwokerto, 29 Juni 2017 11.20 pagi. Sembari saya menunggu teman saya yang tak kunjung datang di suatu cafe di tengah kota kecil ini . . .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s